Al-Quran Online ini, ajakan untuk mendalami AlQuran sambil mencari ridho dan cinta Allah semata
Daftar Akar Kata Pada AlQuran
Dipersembahkan oleh para sukarelawan yang hanya mencari kecintaan Allah semata

An-Nisa

dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

ayat 82

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur'an? Kalau kiranya Al Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.

Irab Surat AnNisa ayat 82


Ayat ini merupakan tantangan logika (burhan aqli) dari Allah kepada mereka yang meragukan Al-Qur'an. Ayat ini mengajak manusia menggunakan akal untuk melihat konsistensi isi Al-Qur'an sebagai bukti kebenaran Ilahi.


🧐 Analisis I'rāb (Gramatikal)

I. Bagian Pertama: Ajakan untuk Tadabbur (Renungan Mendalam)

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ

Kata

I'rāb (Kedudukan Gramatikal)

Keterangan/Status

أَ (A)

Hamzah Istifhām Inkārī

Huruf tanya yang bermakna ingkar/teguran. Artinya: "Apakah (mengapa) tidak...?"

فَ (Fa)

Fā' al-'Aṭifah

Huruf penyambung. Menghubungkan kalimat ini dengan kalimat sebelumnya (tersirat).

لَا (Lā)

Lā Nāfiyah

Huruf negasi/penyangkal.

يَتَدَبَّرُونَ (Yatadabbarūna)

Fi'l Muḍāri'

Marfū' dengan tetapnya Nūn (Ṡubūtun Nūn) karena termasuk Af'ālul KhamsahWāw (و) adalah Fā'il (Subjek). Artinya: "mereka merenungkan/memperhatikan dengan teliti."

الْقُرْآنَ (Al-Qur'āna)

Maf'ūl bih (Objek)

Manṣūb dengan tanda fatḥah. Objek yang direnungkan.

II. Bagian Kedua: Pengandaian (Syarat)

وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللَّهِ

Kata

I'rāb (Kedudukan Gramatikal)

Keterangan/Status

وَ (Wa)

Wāw Ḥāliyyah / Isti'nāfiyyah

Menjelaskan keadaan atau memulai argumen baru. "Padahal seandainya..."

لَوْ (Law)

Ḥarf Syarṭ Ghairu Jāzim

Huruf syarat yang bermakna Imtinā' li Imtinā' (Sesuatu tidak terjadi karena syaratnya tidak terpenuhi). Artinya: "Seandainya" (tapi kenyataannya tidak demikian).

كَانَ (Kāna)

Fi'l Māḍī Nāqiṣ

Kata kerja bantu lampau. Isim Kāna-nya adalah ḍamīr mustatir (huwa) yang kembali ke Al-Qur'an.

مِنْ عِندِ (Min 'Indi)

Jārr wa Majrūr

Muta'alliq (terkait) dengan Khabar Kāna yang dihapus (Maḥzūf). Takdirnya: Kāna [munzalan/ṣādiran] min 'indi... (Seandainya ia [turun] dari sisi...).

غَيْرِ (Ghairi)

Muḍāf Ilaih

Majrūr dengan kasrah. Kata ini juga berfungsi sebagai Muḍāf bagi kata berikutnya.

اللَّهِ (Allāhi)

Lafẓul Jalālah

Muḍāf IlaihMajrūr.

III. Bagian Ketiga: Jawaban Pengandaian (Konsekuensi)

لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

Kata

I'rāb (Kedudukan Gramatikal)

Keterangan/Status

لَـ (La)

Lām al-Wāqi'ah fī Jawāb Law

Huruf Lam yang wajib ada untuk menjawab kata syarat Law. Berfungsi sebagai penegas hubungan sebab-akibat.

وَجَدُوا (Wajadū)

Fi'l Māḍī

Mabni 'ala ḍammu karena bersambung dengan Wāw Jamā'ah. Wāw adalah Fā'il. Kalimat ini adalah Jawāb Syarṭ.

فِيهِ (Fīhi)

Jārr wa Majrūr

Terkait dengan Wajadū. "Di dalamnya (Al-Qur'an)."

اخْتِلَافًا (Ikhtilāfan)

Maf'ūl bih (Objek)

Manṣūb dengan fatḥah. Artinya: "pertentangan/perselisihan."

كَثِيرًا (Kaṡīran)

Na'at (Sifat)

Manṣūb mengikuti Man'ut-nya (Ikhtilāfan). Artinya: "yang banyak."


🔑 Poin Utama I'rāb Ayat

  1. Makna "Tadabbur" (يَتَدَبَّرُونَ): Kata ini berasal dari akar kata Dubur (belakang/akhir). Secara morfologi (wazan Tafa'ul), ia bermakna "usaha keras untuk melihat apa yang ada di balik/di akhir sesuatu". Jadi, Tadabbur bukan sekadar membaca, tapi merenungkan makna, tujuan, dan konsistensi di balik teks ayat.

  2. Logika "Law" (لَوْ) - Imtinā' li Imtinā': Dalam ilmu Nahwu, لَوْ disebut Ḥarf Imtinā' li Imtinā' (huruf yang menunjukkan tidak terjadinya jawaban karena tidak terjadinya syarat).

    • Syarat: Al-Qur'an dari selain Allah (Kondisi ini TIDAK terjadi).

    • Jawab: Ditemukan banyak pertentangan (Konsekuensi ini juga TIDAK terjadi).

    • Kesimpulan: Karena tidak ada pertentangan, maka Al-Qur'an pasti dari Allah. Ini adalah argumen logika yang sangat kuat.

  3. Penempatan "Katsiran" (Banyak): Allah menyebutkan Ikhtilāfan Kaṡīran (pertentangan yang banyak). Para ulama Balaghah menjelaskan bahwa karya manusia, semakin panjang dan tebal (seperti Al-Qur'an yang turun selama 23 tahun), pasti memiliki inkonsistensi, revisi, atau kontradiksi yang "banyak". Ketiadaan pertentangan sama sekali dalam kitab setebal itu adalah mukjizat.

  4. I'rab Isim Kana: Pada frasa Walau Kāna min 'indi..., Isim Kana-nya tersembunyi (mustatir). Secara konteks, ia merujuk kembali kepada Al-Qur'an yang disebutkan di kalimat sebelumnya (Maf'ul bih pada bagian pertama).