Ayat
ini merupakan tantangan logika (burhan aqli) dari Allah kepada
mereka yang meragukan Al-Qur'an. Ayat ini mengajak manusia
menggunakan akal untuk melihat konsistensi isi Al-Qur'an sebagai
bukti kebenaran Ilahi.
🧐
Analisis
I'rāb (Gramatikal)
I.
Bagian Pertama: Ajakan untuk Tadabbur (Renungan Mendalam)
أَفَلَا
يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ
Kata
|
I'rāb
(Kedudukan Gramatikal)
|
Keterangan/Status
|
أَ
(A)
|
Hamzah
Istifhām Inkārī
|
Huruf
tanya yang bermakna ingkar/teguran. Artinya: "Apakah
(mengapa) tidak...?"
|
فَ
(Fa)
|
Fā'
al-'Aṭifah
|
Huruf
penyambung. Menghubungkan kalimat ini dengan kalimat
sebelumnya (tersirat).
|
لَا
(Lā)
|
Lā
Nāfiyah
|
Huruf
negasi/penyangkal.
|
يَتَدَبَّرُونَ
(Yatadabbarūna)
|
Fi'l
Muḍāri'
|
Marfū' dengan
tetapnya Nūn (Ṡubūtun
Nūn)
karena termasuk Af'ālul
Khamsah. Wāw (و)
adalah Fā'il (Subjek).
Artinya: "mereka merenungkan/memperhatikan dengan
teliti."
|
الْقُرْآنَ
(Al-Qur'āna)
|
Maf'ūl
bih (Objek)
|
Manṣūb dengan
tanda fatḥah. Objek yang direnungkan.
|
II.
Bagian Kedua: Pengandaian (Syarat)
وَلَوْ
كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللَّهِ
Kata
|
I'rāb
(Kedudukan Gramatikal)
|
Keterangan/Status
|
وَ
(Wa)
|
Wāw
Ḥāliyyah / Isti'nāfiyyah
|
Menjelaskan
keadaan atau memulai argumen baru. "Padahal
seandainya..."
|
لَوْ
(Law)
|
Ḥarf
Syarṭ Ghairu Jāzim
|
Huruf
syarat yang bermakna Imtinā' li Imtinā' (Sesuatu
tidak terjadi karena syaratnya tidak terpenuhi). Artinya:
"Seandainya" (tapi kenyataannya tidak demikian).
|
كَانَ
(Kāna)
|
Fi'l
Māḍī Nāqiṣ
|
Kata
kerja bantu lampau. Isim Kāna-nya adalah ḍamīr
mustatir (huwa) yang kembali ke Al-Qur'an.
|
مِنْ
عِندِ (Min
'Indi)
|
Jārr
wa Majrūr
|
Muta'alliq (terkait)
dengan Khabar Kāna yang dihapus (Maḥzūf).
Takdirnya: Kāna [munzalan/ṣādiran] min
'indi... (Seandainya ia [turun] dari sisi...).
|
غَيْرِ
(Ghairi)
|
Muḍāf
Ilaih
|
Majrūr dengan
kasrah. Kata ini juga berfungsi sebagai Muḍāf bagi
kata berikutnya.
|
اللَّهِ
(Allāhi)
|
Lafẓul
Jalālah
|
Muḍāf
Ilaih. Majrūr.
|
III.
Bagian Ketiga: Jawaban Pengandaian (Konsekuensi)
لَوَجَدُوا
فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا
Kata
|
I'rāb
(Kedudukan Gramatikal)
|
Keterangan/Status
|
لَـ
(La)
|
Lām
al-Wāqi'ah fī Jawāb Law
|
Huruf
Lam yang wajib ada untuk menjawab kata syarat Law.
Berfungsi sebagai penegas hubungan sebab-akibat.
|
وَجَدُوا
(Wajadū)
|
Fi'l
Māḍī
|
Mabni
'ala ḍammu karena bersambung dengan Wāw
Jamā'ah. Wāw adalah Fā'il.
Kalimat ini adalah Jawāb Syarṭ.
|
فِيهِ
(Fīhi)
|
Jārr
wa Majrūr
|
Terkait
dengan Wajadū. "Di dalamnya (Al-Qur'an)."
|
اخْتِلَافًا
(Ikhtilāfan)
|
Maf'ūl
bih (Objek)
|
Manṣūb dengan
fatḥah. Artinya: "pertentangan/perselisihan."
|
كَثِيرًا
(Kaṡīran)
|
Na'at (Sifat)
|
Manṣūb mengikuti
Man'ut-nya (Ikhtilāfan). Artinya: "yang banyak."
|
🔑
Poin
Utama I'rāb Ayat
Makna
"Tadabbur" (يَتَدَبَّرُونَ): Kata
ini berasal dari akar kata Dubur (belakang/akhir).
Secara morfologi (wazan Tafa'ul),
ia bermakna "usaha keras untuk melihat apa yang ada di
balik/di akhir sesuatu". Jadi, Tadabbur bukan
sekadar membaca, tapi merenungkan makna, tujuan, dan konsistensi
di balik teks ayat.
Logika
"Law" (لَوْ)
- Imtinā' li Imtinā': Dalam
ilmu Nahwu, لَوْ disebut Ḥarf
Imtinā' li Imtinā' (huruf
yang menunjukkan tidak terjadinya jawaban karena tidak
terjadinya syarat).
Syarat: Al-Qur'an
dari selain Allah (Kondisi ini TIDAK terjadi).
Jawab: Ditemukan
banyak pertentangan (Konsekuensi ini juga TIDAK terjadi).
Kesimpulan: Karena
tidak ada pertentangan, maka Al-Qur'an pasti dari Allah. Ini
adalah argumen logika yang sangat kuat.
Penempatan
"Katsiran" (Banyak): Allah
menyebutkan Ikhtilāfan Kaṡīran (pertentangan
yang banyak). Para ulama Balaghah menjelaskan bahwa karya
manusia, semakin panjang dan tebal (seperti Al-Qur'an yang turun
selama 23 tahun), pasti memiliki inkonsistensi, revisi, atau
kontradiksi yang "banyak". Ketiadaan pertentangan sama
sekali dalam kitab setebal itu adalah mukjizat.
I'rab
Isim Kana: Pada frasa Walau Kāna min 'indi...,
Isim Kana-nya tersembunyi (mustatir). Secara konteks, ia
merujuk kembali kepada Al-Qur'an yang
disebutkan di kalimat sebelumnya (Maf'ul bih pada
bagian pertama).